Saturday, April 12, 2008

Zawaj Yang Diberkahi - Risalah Nikah

Istri yang paling baik adalah yang membahagiakanmu,
saat kamu memandangnya, yang mematuhimu kala kamu
menyuruhnya, dan memelihara kehormatan dirinya dan
dirimu bila kamu tidak ada disisinya. Setelah
Rasulullah SAW meninggal dunia, ada beberapa orang
sahabat menemui Aisyah memintanya agar menceritakan
perilaku Rasulullah. Aisyah sesaat tidak menjawab
permintaan itu. Air matanya berderai, kemudian dengan
nafas panjang ia berkata: “Kaana Kullu Amrihi Ajaba” .


Allah berfirman:
“Diantara tanda-tanda keangungan Allah, ialah Dia
ciptakan bagimu, dari jenis-jenismu sendiri,
pasangan-pasangannya. Supaya kamu hidup tentram
bersamanya, dan Allah jadikan bagimu cinta dan kasih
sayang. Sesungguhnya dalam hal itu ada tanda-tanda
bagi orang-orang yang mahu berfikir”.


Ayat ini ditempatkan Allah pada rangkaian ayat tentang
tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Tentang
tegaknya langit, terhamparnya bumi, gemuruh halilintar
dann keajaiban penciptaan manusia. Dengan ayat ini Dia
ingin mengajarkan kepada kita betapa Dia dengan
sengaja menciptakan kekasih yang menjadi pasangan
hidup manusia yang bersedia berdiri dengan setia
disamping kita, yang mahu mendengar bukan saja
kata-kata yang diucapkan, melainkan juga jeritan hati
yang tidak terungkapkan, yang mahu menerima perasaan
tanpa pura-pura, prasangka dan pamrih, yang mampu
meniupkan kedamaian, mengobati luka, menopang tubuh
lemah dan memperkuat hati.


Allah menetapkan suatu ikatan suci, yaitu Akad Nikah,
agar hubungan antara pecinta dan kekasihnya itu
menyuburkan ketentraman, cinta dan kasih sayang.
Dengan dua kalimat yang sederhana “Ijab dan Qabul”
terjadilah perubahan besar: yang haram menjadi halal,
yang maksiat menjadi ibadat, kekejian menjadi
kesucian, dan kebebasan menjadi tanggung jawab. Maka
nafsu pun berubah menjadi cinta dan kasih sayang.
Begitu besarnya perubahan ini sehingga Al Qur’an
menyebut Akad Nikah sebagai Mitsaqon Ghalidon . Hanya
3 kali kata ini disebut dalam Al Qur’an.



Pertama,ketika Allah membuat perjanjian dengan Nabi dan Rasul
Ulul ‘Azmi .

Kedua, ketika Allah mengangkat bukit Tsur
diatas kepala Bani Israil dan menyuruh mereka
bersumpah setia di hadapan Allah .

Dan Ketiga, ketika Allah menyatakan hubungan pernikahan .


Peristiwa Akad Nikah bukanlah peristiwa kecil di
hadapan Allah. Akad Nikah tidak saja disaksikan oleh
kedua orang tuanya, saudara dan sahabat-sahabat tetapi
juga disaksikan oleh para malaikat di langit yang
tinggi dan terutama sekali disaksikan oleh Allah
Rabbul Izzati . Maka apabila kamu sia-siakan
perjanjian ini, ikatan yang sudah terbuhul, janji yang
terpatri, kamu bukan hanya harus bertanggung jawab
kepada mereka yang hadir, tetapi juga dihadapan Allah
Rabbul Alamin.


“Laki-laki adalah pemimpin di tengah keluarganya, dan
ia harus mempertanggung jawabkan kepemimpinannya.
Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia harus
mempertanggung jawabkan kepemimpinannya.”
“Yang paling baik diantara kamu adalah yang paling
baik dan lembut terhadap keluarganya”.


Seorang isteri boleh memberi apa saja yang ia miliki.
Tetapi, bagi seorang suami, tidak ada pemberian isteri
yang paling membahagiakan selain hati yang selalu siap
berbagi kesenangan dan penderitaan. Di luar rumah,
sang suami boleh jadi diguncangkan oleh berbagai
kesulitan, ia menemukan wajah-wajah tegar, mata-mata
tajam, ucapan-ucapan kasar, dan pergumulan hidup yang
berat. Ia ingin ketika pulang ke rumah, disitu
ditemukan wajah yang ceria, mata yang sejuk, ucapan
yang lembut dam berlindung dalam keteduhan kasih
sayang sang isteri . Ia ingin mencairkan seluruh beban
jiwanya dengan kehangatan air mata yang terbit dari
samudera kasih sayang sang isteri.


Rasulullah bersabda:
“Isteri yang terbaik adalah isteri yang,
membahagiakanmu saat kamu memandangnya, yang
mematuhimu kalau kamu menyuruhnya, dan memelihara
kehormatan dirinya san hartamu bila kamu tidak ada
disisinya.”


Rasulullah bersabda bahwa surga terletak dibawah kaki
kaum Ibu. Maka apakah rumah tangga yang dibangun hari
ini akan menjadi surga atau neraka, tergantung pada
sang ibu rumah tangga. Rumah tangga akan menjadi surga
apabila disitu dihiaskan kesabaran, kesetiaan dan
kesucian.


Allah SWT berfirman:


“Wahai wanita, ingatlah ayat-ayat Allah dan hikmah
yang dibacakan di rumah-rumah kamu. Sesungguhnya Allah
Maha Penyayang dan Maha Mengetahui.”
Suatu saat, kelak bila perahu rumah tangga bertubrukan
dengan kerikil tajam, bila impian remaja menjadi
kenyataan yang pahit, bila bukit-bukit harapan
diguncangkan gempa cobaan, tetaplah teguh disamping
sang suami, tetaplah tersenyum walau langit semakin
mendung.


Rasulullah SAW adalah manusia paling mulia. Dan
Aisyah, ia bercerita bagaimana Rasulullah SAW
memuliakannya: “Di rumah, kata Aisyah, “Rasulullah
melayani keperluan isterinya, memasak, menyapu lantai,
memerah sesu dan memebrsihkan pakaian. Dia memanggil
isterinya dengan gelaran yang baik”.


Rasulullah SAW meninggal dunia, ada bebarapa orang
sahabat menemui Aisyah, memintanya agar menceritakan
perilaku Rasulullah SAW. Aisyah sesaat tidak menjawab
pertanyaan itu. Air matanya berderai kemudian dengan
naafas panjang ia berkata: “Kaana Kullu Amrihi Ajaba…”
. Ketika didesak untuk menceritakan perilaku Rasul
yang paling mempesona, Aisyah kemudian menceritakan
bagaimana Rasul yang mulia di tengah malam bangun dan
meminta ijin kepada Aisyah untuk shalat malam “Izinkan
aku beribadah kepada Rabb-ku” ujar Rasulullah SAW
kepada Aisyah.


Rasulullah bersabda:
“Seandainya aku boleh memerintahkan kepada manusia
bersujud kepada manusia lain. Aku akan perintahkan
para isteri untuk bersujud kepada suami mereka karena
besarnya hak suami yang dianugerahkan Allah atas
mereka.”


Banyak isteri yang menuntut agar suaminya
membahagiakan mereka. Jarang terpikir oleh mereka
bagaimana membahagiakan suami. Padahal cinta dan kasih
sayang akan tumbuh dan subur dalam suasana “memberi”
bukan “mengambil”. Cinta adalah “sharing” saling
membagi. Cinta tidak akan diperoleh kalau yang
ditebarkan adalah kebencian. Kasih sayang tidak akan
dapat diraih bila yang disuburkan adalah dendam dan
kekecewaan.


Marie von Ebner Eschebach berkata:
“Bila di dunia ini ada surga, surga itu adalah
pernikahan yang bahagia tetapi bila di dunia ini ada
neraka, neraka adalah pernikahan yang gagal”.

Karena itulah Islam dengan penuh perhatian mengatur urusan
rumah tangga.
Ribuan tahun yang silam, di Padang Arafah, saat haji
wada’ Rasulullah menyampaikan khotbah perpisahannya &
perhatikan apa yang diwasiatkannya pada waktu itu,


“Wahai manusia, takutlah kepada Allah dalam urusan
wanita, Sesungguhnya kamu telah mengambil mereka
sebagai isteri dengan amanat Allah. Dia halal-kan
kehormatan mereka dengan kalimat-Nya. Sesungguhnya
kamu mempunyai hak atas isterimu, dan isterimupun
berhak atas kamu. Ketahuilah aku wasiatkan kepada
kalian untuk berbuat baik terhadap isteri kalian.
Mereka adalah penolong kalian. Mereka tidak memilih
apa-apa untuk dirinya dan kamupun tidak memilih
apa-apa dari diri mereka selain dari itu. Jika mereka
patuh kepadamu, janganlah kamu berbuat aniaya kepada
mereka”.


Rasulullah bersabda:
“Ada dua dosa yang akan didahulukan Allah siksanya di
dunia ini juga, yaitu: Al-bagyu dan durhaka kepada
orang tua”.


Al-bagyu adalah berbuat sewenang-wenang, berbuat
dzalim/aniaya terhadap orang lain. Al-bagyu yang
paling dimurkai Allah adalah berbuat dzalim kepada
isteri sendiri, yaitu menelantarkan isteri, menyakiti
hatinya, merampas kehangatan cintanya, merendahkan
kehormatannya, mengabaikan dalam mengambil keputusan,
dan mencabut haknya untuk memperoleh kebahagiaan hidup
bersama-sama. Karena itulah Rasulullah mengukur tinggi
rendahnya martabat seorang laki-laki dari cara ia
bergaul dengan isterinya, Nabi yang mulia bersabda:
“Tidak akan memuliakan wanita kecualli laki-laki yang
mulia, dan tidak akan merendahkan wanita kecuali
laki-laki yang rendah pula”.


Pada saat perahu rumah tangga bertubrukan dengan
kerikil tajam, impian remaja telah berganti menjadi
kenyataan yang pahit, dan bukti-bukti harapan
diguncangkan gempa cobaan, tidak ada yang paling
menyejukkan sang suami selain pemandangan yang
mengharukan. Ia bangun di malam hari, di dapatinya
sang isteri tidak ada di sampingnya. Tetapi, kemudian
ia dengar suara yang sangat dikenalnya. Diatas
sajadah, diatas lantai yang dingin, ia menyaksikan
seorang wanita bersujud. Suaranya bergetar. Ia memohon
agar Allah menganugerahkan pertolongan bagi suaminya.
Pada saat seperti itu sang suami akan mengangkat
tangannya ke langit dan bersamaan titis-titis air
matanya ia berdoa:


“Ya Allah, karuniakan kepada kami isteri dan keturunan
yang menentramkan hati kami, dan jadikanlah kami
penghulu orang-orang yang bertaqwa”.


Suatu saat Aisyah ra bercerita lama, setelah
meninggalnya Khadijah ra. “Hampir setiap kali
Rasulullah akan keluar rumah, beliau meyebutkan nama
Khadijah seraya memujinya. Sehingga pada suatu hari
ketika beliau menyebutkan lagi, timbul rasa cemburuku
dan kukatakan kepadanya, “Bukankah ia hanya seorang
wanita yang sudah tua, sedangkan Allah telah memberi
pengganti yang lebih baik dari dia?” Mendengar itu
Rasulullah kelihatan sangat marah, sehingga bagian
depan rambutnya bergetar karenanya. Lalu ia berkata,
“Tidak demi Allah. Aku tidak mendapat pengganti yang
lebih baik dari dia…! Dia beriman kepadaku ketika
orang lainn mendustakanku. Dia membantu dengan hartaku
ketika tak seorangpun selain dia memberiku sesuatu dan
Allah telah menganugerahkan keturunan daripadanya dan
tidak dari isteri-isteriku yang lain”


“Bila seorang wanita meninggal dunia, dan suaminya
ridho sekali dengan tingkah lakunya semasa hidupnya,
maka wanita itu masuk surga”.


Ya Allah…
Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati
ini telah berkumpul untuk mencurahkan cinta hanya
kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam
rangka menyeru -Mu, dan berjanji setia untuk membela
syariat-Mu maka kuatkanlah ikatan pertaliannya.


Ya Allah…
Abadikan kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan
penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup,
lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan
keindahan tawakal kepada-Mu, hidupkanlah dengan
ma’rifat-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di
jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung
dan sebaik-baik penolong. Amin. Dan semoga shalawat
seta salam selalu tercurah kepada Mudammad SAW, kepada
keluarganya dan kepada semua sahabatnya.


Ya Allah…
Hari ini dua hamba-Mu yang dhaif mematri janji di
hadapan kebesaran-Mu. Kami tahu tidak mudah untuk
memelihara ikatan suci ini dalam naungan ridha dan
maghfirah-Mu. Kami tahu, amat berat bagi kami untuk
mengayuh perahu rumah tangga kami menghadapi taufan
godaan di hadapan kami. Karena itulah, kami datang
memohon rahman dan rahim-Mu.


Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang
yang lebih Engkau anugerahi kenikmatan, bukan-nya
jalan orang-orang yang Engkau timpai kemurkaan, bukan
pula jalan orang-orang yang Engkau tenggelam dalam
kesesatan. Sinarilah hati kami dengan cahaya
petunjuk-Mu.


Terangilah jalan kami dengan sinar taufik-Mu. Kalau
Engkau berkenan menganugerahkan nikmat-Mu atas kami,
bantulah kami untuk banyak berdzikir dan bersyukur
atas nikmat-Mu itu. Hindari kami dari orang-orang yang
terlena dalam kemewahan dunia. Lembutkan hati kami
untuk merasakan curahan rahmat-Mu.


Ya Allah…
Indahkanlah rumah kami dengan kalimat-kalimat-Mu yang
suci. Suburkanlah kami dengan keturunan yang
membesarkan asma-Mu. Penuhi kami dengan amal shaleh
yang Engkau ridhai. Jadikan mereka Yaa…Allah teladan
yang baik bagi manusia.


YaAllah…
Damaikanlah pertengkaran di antara kami, pertautkan
hati kami, dan tunjukkan kepada kami jalan-jalan
keselamatan. Selamatkan kami dari kegelapan kepada
cahaya. Jauhkan kami dari kejelekan yang tampak dan
tersembunyi.


Ya Allah…
Berkatilah pendengaran kami, penglihatan kami, hati
kami, suami/isteri kami, keturunan kami dan ampunilah
kami.


Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. Amiin…





Sumber : Asinfer

No comments: