Saturday, May 24, 2008

SSikap Memaafkan dan Manfaatnya bagi Kesihatan

Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al Qur’an, 7:199)

Dalam ayat lain Allah berfirman: "...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahawa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22)

Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur'an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:

... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)

Juga dinyatakan dalam Al Qur'an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. "Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (Qur'an 42:43) Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an, "...menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)

Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur'an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah.


-Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keeping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.-


Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.


Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.

Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:

Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.

Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness" [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.

Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala sesuatu lainnya – haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.





Sumber :Harun Yahya

Tuesday, May 20, 2008

Kisah Seorang Penjual Tempe

'Akan dikabulkan doa seseorang itu selama mana dia tidak terburu-buru sehingga dia mengatakan "aku sudah berdoa, tetapi tidak dikabulkan".'




Ada sebuah kampung di pedalaman Tanah Jawa. Di situ ada seorang perempuan tua yang sangat kuat beribadat. Pekerjaannya ialah membuat tempe dan menjualnya di pasar setiap hari. Ia merupakan satu-satunya sumber pendapatannya untuk menyara hidup. Tempe yang dijualnya merupakan tempe yang dibuatnya sendiri.

Pada suatu pagi, seperti biasa, ketika beliau sedang bersiap- siap untuk pergi menjual tempenya, tiba tiba dia tersedar yang tempenya yang diperbuat daripada kacang soya hari itu masih belum menjadi, separuh menjadi. Kebiasaannya tempe beliau telah masak sebelum bertolak. . Diperiksanya beberapa bungkusan yang lain. Ternyatalah memang kesemuanya belum masak lagi. Perempuan tua itu berasa amat sedih sebab tempe yang masih belum menjadi pastinya tidak akan laku dan tiadalah rezekinya pada hari itu. Dalam suasana hatinya yang sedih, dia yang memang kuat beribadah teringat akan firman ALLAH yang menyatakan bahawa ALLAH dapat melakukan perkara-perkara ajaib, bahawa bagi ALLAH tiada yang mustahil. Lalu diapun mengangkat kedua tangannya sambil berdoa ,' Ya ALLAH , aku memohon kepada-Mu agar kacang soya ini menjadi tempe.Aminâ'.  Begitulah doa ringkas yang dipanjatkan dengan sepenuh hatinya. Dia sangat yakin bahawa ALLAH pasti mengabulkan doanya. Dengan tenang perempuan tua itu menekan-nekan bungkusan bakal tempe dengan hujung jarinya dan dia pun membuka sedikit bungkusan itu untuk menyaksikan keajaiban kacang soya itu menjadi tempe. Namun, dia termenung seketika sebab kacang tu masih tetap kacang soya.. Namun dia tidak putus asa, sebaliknya berfikir mungkin doanya kurang jelas didengar oleh ALLAH. Maka dia pun mengangkat kedua tangannya semula dan berdoa lagi. ' Ya ALLAH, aku tahu bahawa tiada yang mustahil bagi-Mu. Bantulah aku supaya hari ini aku dapat menjual tempe kerana inilah mata pencarianku. Aku mohonagar jadikanlah kacang soyaku ini kepada tempe, Amin'.

Dengan penuh harapan dan debaran dia pun sekali lagi membuka sedikit bungkusan tu. Apakah yang terjadi? Dia termangu dan hairan apabila tempenya masih tetap begitu!! Sementara itu hari pun semakin meninggi sudah tentu pasar sudah mula didatangi ramai orang. Dia tetap tidak kecewa atas doanya yang belum terkabul. Walaubagai manapun kerana keyakinannya yang sangat tinggi dia bercadang untuk tetap pergi ke pasar membawa barang jualannya itu. Perempuan tua itu pun berserah pada ALLAH dan meneruskan pemergian ke pasar sambil berdoa dengan harapan apabila sampai di pasar kesemua tempenya akan masak. Dia berfikir mungkin keajaiban ALLAH akan terjadi semasa perjalanannya ke pasar. Sebelum keluar dari rumah, dia sempat mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. 'Ya ALLAH, aku percaya, Engkau akan mengabulkan doaku.. Sementara aku berjalan menuju ke pasar, Engkau kurniakanlah keajaiban ini buatku, jadikanlah tempe ini. Amin'. Lalu dia pun berangkat. Di sepanjang perjalanan dia tetap tidak lupa membaca doa di dalam hatinya. Sesampai sahaja di pasar, segera dia meletakkan barang- barangnya. Hatinya betul-betul yakin yang tempenya sekarang mesti sudah menjadi. Dengan hati yg berdebar-debar dia pun membuka bakulnya dan menekan-nekan dengan jarinya setiap bungkusan tempe yanga da. Perlahan-lahan dia membuka sedikit daun pembungkusnya dan melihat isinya. Apa yang terjadi? Tempenya masih belum menjadi!!


hiasan :sayur tempe kegemaran saya =)


Dia pun kaget seketika lalu menarik nafas dalam-dalam. . Dalam hatinya sudah mula merasa sedikit kecewa dan putus asa kepada ALLAH kerana doanya tidak dikabulkan. Dia berasakan ALLAH tidak adil. ALLAH tidak kasihan padanya, inilah satu-satunya punca rezekinya, hasil jualantempe. Dia akhirnya cuma duduk sahaja tanpa mempamerkan barang jualannya sebab dia berasakan bahawa tiada orang yang akan membeli tempe yang baru separuh menjadi.Sementara itu hari pun semakin petang dan pasar sudah mulai sepi, para pembeli sudah mula kurang.


Dia meninjau-ninjau kawan-kawan sesama penjual tempe,tempe mereka sudah hampir habis. Dia tertunduk lesu seperti tidak sanggup menghadapi kenyataan bahawa hari ini tiada hasil jualan yang boleh dibawa pulang. Namun jauh di sudut hatinya masih menaruh harapan terakhir kepada ALLAH, pasti ALLAH akan menolongnya. Walaupun dia tahu bahawa pada hari itu dia tidak akan dapat pendapatan langsung, namundia tetap berdoa buat kali terakhir, ,Ya ALLAH, berikanlah penyelesaian terbaik terhadap tempeku yang belum menjadi ini.' Tiba-tiba dia dikejutkan dengan teguran seorang wanita.


'Maaf ya, saya ingin bertanya, Makcik ada tak menjual tempe yang belum menjadi? Dari tadi saya sudah pusing keliling pasar ini untuk mencarinya tapi masih belum berjumpa lagi.' Dia termenung dan terpinga- pinga seketika. Hatinya terkejut sebab sejak berpuluh tahun menjual tempe, tidak pernah seorang pun pelanggannya mencari tempe yang belum menjadi. Sebelum dia menjawab sapaan wanita di depannya itu, cepat-cepat dia berdoa di dalam hatinya 'Ya ALLAH, saat ini aku tidak mahu tempe ini menjadi lagi. Biarlah tempe ini seperti semula, Amin' .Sebelum dia menjawab pertanyaan wanita itu, dia membuka sedikit daun penutup tempenya. Alangkah seronoknya dia, ternyata memang benar tempenya masih belum menjadi! Dia pun rasa gembira dalam hatinya danbersyukur pada ALLAH. Wanita itu pun memborong habis kesemua tempenya yang belum menjadi itu.


Sebelum wanita tu pergi, dia sempat bertanya wanita itu, 'Mengapa hendak membeli tempe yang belum jadi?'  Wanita itu menerangkan bahawa anaknya yang kini berada di England teringin makan tempe dari desa. Memandangkan tempe itu akan dikirimkan ke England, si ibu tadi kenalah membeli tempe yang belum jadi lagi supaya apabila sampai di England nanti akan menjadi tempe yang sempurna. Kalau dikirimkan tempe yang sudah menjadi, nanti di sana tempe itu sudah tidak elok lagi dan rasanya pun kurang sedap.

Perempuan tua itu pun kehairanan dan berfikir rupa-rupanya doanya sudah pun dimakbulkan oleh ALLAH=)

'Sesungguhnya barang siapa yang yakin dengan ketentuan Allah maka Allah akan membuka pintu rezekinya dari pelbagai jalan dan cara. Janganlah berputus asa kerana rezeki untuk kita pasti ada selagi mana kita berusaha.'


************ ********* ********* ********* ********* ********* *****

Moral:


Pertama: Kita sering memaksakan kehendak kita kepadaALLAH sewaktu berdoa, padahal sebenarnya ALLAH lebih mengetahui apayang kita perlukan dan apa yang terbaik untuk diri kita.

Kedua: Sentiasalah berdoa dalam menjalani kehidupan seharian kita sebagai hamba-Nya yang lemah. Jangan sekali-kali berputus asa terhadap apa yang dipinta. Percayalah bahawa ALLAH akan mengabulkan doa kita sesuaidengan rancangan-Nya yang mungkin di luar jangkaan kita.

Ketiga : Tiada yang mustahil bagi ALLAH.



Sumber : Asinfer

Sunday, May 18, 2008

Seindah Lakaran Minda






http://hikmatun.wordpress.com

Robo-PAS(suka2)





http://hikmatun.wordpress.com

Peringatan Untuk Diriku Yang Alpa

Friday, May 16, 2008

GURU OH GURU

Dia Seorang Guru

Dia seorang guru tua sebuah sekolah
terdidik dalam negeri tanpa berjela ijazah
penunggu setia sekolah desa bukan cuma ganjaran upah
tidak juga mengharap kemilau gelar dan anugerah
sekadar kerelaannya menggenggam suatu amanah

yang mengangkat harga diri dan maruah
dengan berbekalkan keyakinan dan hikmah
dengan kelkhlasan had dan pasrah
dengan tidak mengenal jemu dan penat-lelah
yang diperkirakan kepuasan diri membangun ummah
berlandas paksi yang jelas dalam tuju-arah.
Dia seorang guru pengganti ayah ibu
dia seorang guru pembentuk generasi baru
dia seorang guru pembina insan sepadu
dia seorang guru pewaris tamadun ilmu
yang terus hidup sepanjang waktu
diimbau berbunyi dilihat bertemu.

Ismail Haji Adnan
1989



Hari ini, Hari Guru



16 Mei adalah tarikh yang sinonim buat insan-insan yang bergelar guru. Pada tarikh ini, ingatan buat guru-guru disumbangsihkan dalam pelbagai bentuk dan rupa, pelbagai gaya dan suasana. ‘Guru Cemerlang Negara Terbilang’, inilah tema yang sudah acap kali diguna pakai sejak 2,3 tahun kebelakangan ini. Pada tahun ini tema yang sama digunakan sempena meraikan Hari Guru ini. Guru Oh Guru.

Siapakah Guru???



Guru membawa erti yang sangat luas dan tidak terhad. Jika dirujuk kepada istilah bahasa arab guru juga boleh diertikan dengan muallim, murabbi, mudarris, ustaz, muaddib dan mursyid. Yang mana setiap perkataan arab itu mustahil mempunyai maksud yang sama. Sebagai contoh muallim dan murabbi sekalipun kedua-dua perkataan itu secara umumnya membawa erti guru tetapi penggunaannya adalah berbeza dan jika dikaji kedua-duanya memberi peranan yang berlainan. Muallim lebih menjurus kepada sorang pengajar (tidak terhad kepada guru sekolah) yang mencurahkan ilmu pengetahuan untuk anak didiknya, dan kadang-kala digunakan dalam ertikata pemimpin. Berbeza dengan murabbi, seseorang muallim lebih menumpukan kepada ilmu akal. Murabbi dalam Islam membawa maksud yang luas melebihi tahap muallim. Konsep Murabbi merujuk kepada pendidik yang bukan sahaja mengajarkan sesuatu ilmu tetapi dalam masa yang sama cuba mendidik rohani, jasmani, fizikal dan mental anak didiknya untuk menghayati dan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.

Justeru, Murabbi lebih menumpukan penghayatan sesuatu ilmu, sekali gus membentuk keperibadian, sikap dan tabiat anak didiknya. Oleh itu, tugas “Muallim” banyak berlegar di “akal” tetapi tugas Murabbiy berlegar di “hati”.

Oleh itu secara amnya, sesiapa sahaja yang menjalankan fungsi seperti di atas secara umumnya boleh dianggap sebagai guru hatta ianya sahabat atau adik kita sendiri. Guru membawa erti yang sangat luas. Cuma siapa yang betul-betul menjadi guru kita itu lebih penting.

Perkataan mursyid berasal dari bahasa arab, dari kata irsyada, iaitu memberi tunjuk-ajar. Dalam erti kata lain, mursyid bererti, seseorang yang pakar dalam memberi tunjuk-ajar terutamanya dalam bidang kerohanian, dalam istilah para sufi.

Mursyid secara istilahnya (menurut kaum sufi), merupakan mereka yang bertanggungjawab memimpin murid dan membimbing perjalanan rohani murid untuk sampai kepada Allah s.w.t., dalam proses tarbiah yang teratur, dalam bentuk tarekat sufiyah.

Para mursyid dianggap golongan pewaris Nabi s.a.w. dalam bidang pentarbiah umat dan pemurnian jiwa mereka (tazkiyah an-nafs), yang mendapat izin irsyad (izin untuk memberi bimbingan kepada manusia) dari para mursyid mereka sebelum mereka, yang mana mereka juga mendapat izin irsyad dari mursyid sebelum mereka dan seterusnya, sehinggalah silsilah izin irsyad tersebut sampai kepada Rasulullah s.a.w. (tanpa terputus turutannya). Oleh itu pada kebiasaannya, ia daripada keturunan ulamak.

Para mursyid bertanggung jawab bagi mengajar dari sudut zahir (syariat) dan makna (batin). Antara ciri seseorang yang digelar mursyid adalah:-

  • Mempunyai ilmu agama yang jelas tentang perkara-perkara fardhu 'ain.
  • Dia merupakan seorang yang kamil dari sudut muamalah dengan Allah s.w.t.
  • Mendapat pengiktirafan /pengesahan dari mursyidnya (guru) yang diiktiraf (tidak putus dalam turutan pengajaran).
  • Manhaj tarbiah yang selari dengan panduan Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Manakal dalam masyarakat Melayu, ustaz dikhususkan kepada mereka yang mengajar agama atau pelajaran agama Islam di sekolah, madrasah, masjid, pondok dan sebagainya.


Tok guru pula merujuk kepada guru agama yang memiliki kepimpinan rohaniah.



Ibu Bapa adalah guru pertama anak-anak

Tidak dinafikan sekolah pertama kita adalah rumah kita sendiri, manakala guru pertama yang bertanggungjawab mendidik kita waktu itu semestinya adalah ibu bapa kita. Saya tidak nafikan ummi dan abah saya merupakan guru pertama saya yang mengenalkan saya kepada kehidupan. Malah ibu bapa merupakan ‘role’ model yang paling berkesan dan terpengaruh terhadap pembesaran akhlak dan budaya kehidupan anak-anak. Malah ibu bapa yang ingin menjadi guru yang terbaik bagi anak-anak perlulah mendidik diri mereka seawal mungkin bermula sebelum kelahiran anak-anak itu sendiri malah sebelum terbinanya baitul muslim.


Rasulullah Guru (Mualllim, murabbi mursyid muaddib mudarris) Teragung.


Seharusnya kita wajib untuk bersyukur kerana kasih sayang Allah telah mengutuskan seorang rasul-Nya yang telah melengkapkan keperluan hidup insan dan menyempurnakan akhlak seluruh umat manusia. Nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan islam itu sendiri. Kedatangan Rasulullah yang menjadi guru teragung umat manusia melengkapkan seluruh keperluan manusia. Seharusnya guru yang patut kita ingati adalah rasulullah s.a.w yang menjadi guru yang paling sempurna dan ‘role’ model yang tiada tandingan untuk kita contohi. Namun ingatan buat Baginda yang semakin hari semakin luput ditelan zaman menjadikan akhlak manusia ranap dan musnah, menjadikan manusia kembali kepada hidup yang tidak bertamadun dan rosak akidahnya? Siapakah yang harus dipersalahkan apabila rasulullah s.a.w bukan lagi idola bagi umat manusia manakala Allah bukan lagi matlamat hidup insani? Maka tidak mustahillah dunia hari ini adalah dunia yang semakin menuju kehancuran. Ya rasulullah, engkau guru teragung yang menerangi hidup manusia.


Guru Masa Kini

Apa dah jadi…. Apa dah jadi…..? Banyak berita-berita di dada akhbar mahupun media massa yang lain menceritakan tentang peranan guru yang tiada ternilai dan tidak kurangnya mengisahkan keburukan guru yang bertindak di luar batasan dan norma seorang pendidik. Di mana silapnya dan apakah puncanya. Ummi saya sendiri seorang guru selalu berceritakan tentang akhlak anak-anak masa kini yang pantang ditegur, rosak, manja dan semakin menjadi-jadi. Berbeza pada zaman dahulu kala, apabila anak-anak dihantar ke sekolah, ibu bapa membenarkan apa sahaja yang bentuk hukuman terhadap anak-anak mereka asalkan masih di bawah kawalan. Tidak hairanlah ramai anak-anak yang ‘menjadi’ pada waktu itu dan hampir tidak kedengaran guru-guru yang mendatangkan masalah. Saling kepercayaan antara guru dan ibubapa menjadi proses pendidikan di sekolah berjalan dengan sempurna. Bezanya hari ini, pelajar-pelajar yang nakal di sekolah pantang ditegur, pantang dirotan, pasti campur tangan ibubapa akan mengeruhkan lagi suasana walhal ternyata teguran guru adalah disebabkan oleh sikap anak-anak mereka. Tidak hairanlah kalau dewasa ini sering kedengaran ibubapa menyaman guru, pelajar sekolah menyaman guru dan pelajar-pelajar memukul guru. Tidak dinafikan ada guru-guru yang kadang-kadang bertindak di luar batasan, sehingga peristiwa beberapa hari yang lalu di Harian Metro di mana guru membaling kerusi ke dinding kerana tidak tahan dengan kedegilan pelajar-pelajarnya? Salah siapakah sebenarnya, guru atau pelajar itu sendiri. Wallahu a’lam. Pada saya guru umpama ibubapa kita. Setiap teguran mereka ada asbabnya tersendiri. Andai kata ada guru-guru muda sekarang yang tidak menghayati erti perjuangan seorang guru, maka tidak mustahil dikatakan bahawa ia juga mungkin dididik oleh guru sedemikian dan kurang penghayatan terhadap perjuangannya sebagai guru. Wallahu a’lam. Semestinya guru adalah insan yang perlu kita hormati sebagaimana kita menghormati ibu bapa kita.

Siapakah guru kita???

Apabila berbicara tentang guru, kebanyakan daripada kita akan merujuk kepada guru sekolah. Fenomena saya berada di kampus, pensyarah kebanyakannya tidak dihormati seperti mana hormatnya seorang pelajar kepada guru. Seingat saya, di sekolah, adab bersama guru kita akan memberi salam apabila bertemu guru, melaksanakan khidmat murabbi di mana setiap kali ternampak guru membawa barangan yang berat, pasti akan ditolong. Namun fenomena di kampus, apa yang menjadi pemerhatian saya, kebanyakan menganggap guru dan pensyarah adalah dua fenomena insan yang berbeza walhal mereka menjalankan fungsi yang sama. Budaya yang diamalkan apabila bergaul dengan guru di sekolah tidak berjaya diaplikasi di kampus-kampus. Sebagaimana yang kita tahu guru mempunyai maksud yang luas dan tidak tertakluk kepada guru di sekolah kita sahaja. Ini bermakna pensyarah atau sesiapa sahaja yang memberi ilmu atau menunjukkan kepada kebenaran ia wajar dianggap guru dan wajar dihormati sebagaimana hormatnya kita terhadap guru dan ibubapa kita.

Mereka yang bergelar Guru.


Sejuta penghargaan dan tahniah buat insan bergelar guru. Jerih perih, susah dan senang memperjuangkan peranan seorang guru dan telah berjaya melahirkan remain insane berguna untuk agama dan bangsa. Seharusnya ucapan Hari Guru ini tidaklah terhadap mereka yang mengajar di sekolah sahaja atau di universiti-universiti, malah hari guru ini khas untuk semua insane yang pernah menjalankan kewajipan menyeru kepada kebenaran dan menyampaikan sesuatu walau satu ayat. Namun ia lebih istimewa bagi mereka yang menyelami bidang perguruan itu sendiri.

Tahniah buat insan-insan yang pernah menjadi guru saya…

Selamat Hari Guru saya ingin rakamkan khas buat mereka…

Ummi n Abah (Guru pertama saya yang sememangnya mereka adalah pendidik)

Cikgu- cikgu Tabika Kemas

Cikgu2 di Sekolah Kebangsaan Kedai Piah

Cikgu2 di Sekolah Menengah Pangkal Kalong

Cikgu2 di Sekolah Menengah Kebangsaan Agama Naim Lilbanat

Cikgu2 di Kolej Matrikulasi Pulau Pinang

Pensyarah-pensyarah di Universiti Teknologi Malaysia, Skudai

Sahabat-sahabat yang pernah menjadi guru saya yang membawa saya kepada erti perjuangan di Kampus

Sahabat-sahabat yang secara tidak langsung memberikan ilmu dan menunjuki kebenaran

Dan sememang tidak dilupakan cikgu-cikgu sekolah memandu yang mengajar saya dengan penuh sabar.= )

Selamat Hari Guru… Engakau Ibarat Bulan Purnama.. Cahaya Menerangi Alam Buana Menerangi Hidup Manusia…dah tak ingat (Lagu nasyid ni dinyanyikan guru saya semasa di Sek Men Keb Agama Naim Lilbanat)


Guru oh Guru

Berburu ke padang datar,
Dapat rusa belang kaki;
Berguru kepalang ajar,
Ibarat bunga kembang tak jadi.

Dialah pemberi paling setia
Tiap akar ilmu miliknya
Pelita dan lampu segala
Untuk manusia sebelum menjadi dewasa.

Dialah ibu dialah bapa juga sahabat
Alur kesetlaan mengalirkan nasihat
Pemimpin yang ditauliahkan segala umat
Seribu tahun katanya menjadi hikmat.

Jika hari ini seorang Perdana Menteri berkuasa
Jika hari ini seorang Raja menaiki takhta
Jika hari ini seorang Presiden sebuah negara
Jika hari ini seorang ulama yang mulia
Jika hari ini seorang peguam menang bicara
Jika hari ini seorang penulis terkemuka
Jika hari ini siapa saja menjadi dewasa;
Sejarahnya dimulakan oleh seorang guru biasa
Dengan lembut sabarnya mengajar tulis-baca.

Di mana-mana dia berdiri di muka muridnya
Di sebuah sekolah mewah di lbu Kota
Di bangunan tua sekolah Hulu Terengganu
Dia adalah guru mewakill seribu buku;
Semakin terpencil duduknya di ceruk desa
Semakin bererti tugasnya kepada negara.

Jadilah apa pun pada akhir kehidupanmu, guruku
Budi yang diapungkan di dulang ilmu
Panggilan keramat "cikgu" kekal terpahat
Menjadi kenangan ke akhir hayat.

Usman Awang
1979




Thursday, May 8, 2008

Pengertian Hari Ibu yang Perlu Diperhalusi



Oleh : Dr. Robiah Hamzah.
MINGGU ke dua dalam bulan Mei begitu sinonim dengan
sambutan Hari Ibu
yang kini seolah-olah menjadi trend
kepada anak-anak meraikannya. Lazimnya di hari

tersebut, ingatan kepada Ibu dizahirkan dengan membawa
mereka makan-makan di hotel atau restoran lima bintang
sambil berhibur mendengar muzik atau melihat artis
menyanyi.

Pemberian seperti hadiah-hadiah istimewa juga tidak
dilupakan atas niat, si ibu berasa bahagia dan
gembira. Namun sampaikah hajat yang ingin diluahkan
kepada si ibu? Berbaloikah membawa mereka keluar
menikmati keindahan makan malam di bawah lampu neon
bergemerlapan. Senang dan tenangkah hati mereka
menerima "hadiah" seperti itu dan serasikah jiwa si
ibu dengan suasana demikian. Bagaimana pula dengan
budaya dan agama yang kita junjung, apa pula pandangan
daripada sudut tersebut. Wartawan Keluarga, Rahana MD
bertemu pakar motivasi dari RKH Motivation & Services,
Dr. Robiah Hamzah baru-baru ini.

Soalan: Apakah pandangan mengenai sambutan Hari Ibu yang menjadi trend sejak kebelakangan ini?




Dr. Robiah: Pandangan peribadi saya begini, dari sudut
sejarah dan budaya sambutan ini jelas menunjukkan ia
bukan hadir daripada budaya timur dan agama Islam.
Sebaliknya ia perayaan yang disambut oleh penganut
agama kristian (keagungan terhadap mary atau mariam)
seperti mana mereka menyambut hari valentine atau
kekasih.

Sambutan ini seperti ada kempen dakwah tersembunyi di
dalamnya supaya kita semua mesra dengan budayanya dan
tidak berasa janggal untuk meraikan bersama. Akhirnya
kita senang dan selesa dengan sambutan tersebut
sedangkan ia berkaitan dengan akidah kita sebagai
muslim.

Apa salahnya dengan sambutan tersebut?

Dr. Robiah: Tidak ada cacat celanya sambutan itu
sebenarnya tetapi cara ia diraikan menggambarkan
seolah-olah wujud hari tertentu kita mengingati si ibu
sedangkan Islam mewajibkan ibu dikenang se panjang masa
kerana syurga di bawah telapak kakinya. Cara
sambutannya juga tidak kena dengan budaya dan agama,
seolah-olah tersirat agenda memesongkan cara hidup
Islam secara senyap-senyap.

Sebaiknya bagaimana pula sambutan dilakukan?

Dr. Robiah: Tidak wujud sambutan sebenarnya tetapi
jika kita ingin mengikut arus globalisasi dan kononnya
tidak dianggap ketinggalan, masih boleh diraikan
tetapi pengisiannya jangan sesekali bercanggah dengan
Islam. Jika sebelum ini masing-masing sibuk membawa
ibu makan-makan di hotel sambil dihiburkan dengan
muzik-muzik moden, dihantar menyertai pelbagai
pertandingan yang lucu dan mengaibkan kerana tidak
sepadan usia, dibacakan sajak atau puisi hingga lalai
solatnya, tidak terjaga aurat dan pergaulannya ubah
kepada yang serba sederhana namun kesannya mendalam
kepada seluruh ahli keluarga.

Pilih hari yang semua anak beranak dapat berkumpul dan
lokasinya terpulang mengikut kemampuan. Sediakan
makanan yang digemari ibu, ajak kawan-kawan yang
selalu menemaninya dan buatkan tahlil, baca yasin
beramai-ramai dan adakan tazkirah. Untuk hiburan
dibacakan kisah ibu-ibu sanjungan yang terkenal, kisah
ibu dan pengorbanan yang dilakukan atau menonton
filem-filem yang mengisahkan tentang ibu.

Serasikan majlis seperti itu kepada ibu-ibu moden yang masih muda?

Dr. Robiah: Ini bukan soal serasi atau tidak, ibu muda
atau tua sebenarnya sama tugasan kerana apabila
anak-anak yang masih kecil dibudayakan dengan cara
sambutan sebegini, ia akan diserap menjadi cara hidup
untuk menguatkan jati diri mereka. Ibu-ibu yang masih
muda harus ingat, menjaga ibu tua yang sakit atau uzur
dengan baik adalah contoh terbaik kepada anak-anak
untuk menghormati datuk dan nenek. Majlis yang baik
seperti ini akan dikenang oleh anak-anak dan disuntik
dalam kehidupan apatah lagi diiringi dengan doa-doa
yang lunak didengar dan dihayati.

Sebagai ibu masa kini, apa pula peranannya?

Dr. Robiah: Muhasabah atau semak diri semula tentang
peranan seorang ibu yang sepatutnya, Tanya diri apakah
ciri-ciri ibu solehah telah pun ditunaikan. Apabila
kita faham tugas, kaitkan pula dengan ciri-ciri
pemakaian yang nilainya bukan untuk diri sahaja tetapi
juga santun di mata anak-anak. Bagaimana ilmu untuk
mendidik anak-anak dimanfaatkan dalam kehidupan
seharian, kemahiran berkomunikasi, mengatasi masalah
anak-anak kecil, anak remaja putus cinta dan pelbagai
lagi teknik menawan dan merapatkan hubungan.

Paling utama, tulus ikhlas dalam mendidik anak-anak
kerana apabila menjadi ibu hatinya kena bersih,
budinya pekerti dan akal budinya mulia.

Untuk renungan

Konsep keibuan sebenarnya tidak perlu diperjelakskan
kerana begitu banyak yang telah diperkatakan
mengenainya.

Islam memberikan penghormatan yang tinggi kepada
status keibuan. Perkara ini dibuktikan melalui hadis
Rasulullah s.a.w. yang bermaksud: “Diriwayatkan dari
Abu Hurairah bahawa seorang lelaki bertanya, Ya
Rasulullah, Siapakah yang paling berhak untukku
berikan kebaikan? Baginda s.a.w menjawab, Ibumu.
Siapakah selepas itu? Ibumu. Selepas itu? Ibumu,
kemudian barulah bapamu.’’ (Hadis Riwayat Bukhari).

Keutamaan mendahulukan ibu berbanding bapa dalam
memberikan kebajikan sehingga disebut sebanyak tiga
kali mungkin mengambil kira tiga peranan eksklusif ibu
dari sudut biologikal iaitu mengandung, melahir dan
menyusukan bayi.

Para antropologis juga sering menekankan bahawa aspek
keibuan ini adalah sesuatu yang kukuh dan jelas.

Umumnya, ibu adalah individu yang mengandung dan
melahirkan anak.

Ini berasaskan kepada apa yang dinyatakan di d alam
al-Quran yang bermaksud:

“Dan kami wajibkan manusia
berbuat baik kepada kedua-dua ibu bapanya, ibunya yang
telah mengandungkannya dengan menanggung kelemahan
demi kelemahan (dari awal mengandung hingga keakhir
menyusunya), dan tempoh menceraikan susunya ialah
dalam masa dua tahun...” (Surah Luqman, 31:14)