Wednesday, June 11, 2008

Mari-Mari Kita Sejenak Mengingat




Sebagai manusia biasa kita tidak dapat lari daripada fenomena lemah iman, Sebagaimana telah kita tahu bahawa hakikatnya "al-imaanu yaziidu wan yanqus". turun dan naiknya iman seseorang hanya diri sendiri sahaja yang tahu. Hanya kita yang tahu takat pasang surut iman kita. Namun gejala lemah iman ini masih boleh dikesan selagi mana kita peka terhadap diri kita dan apa yang berlaku kepada diri kita.

Sesungguhnya penyakit lemah iman mempunyai beberapa tanda-tanda dan gejala. Marilah kita mengesan simptom-simptom berbahaya ini sebelum ia menjadi barah yang menular dalam jiwa kita seterusnya merosakkan seluruh kehidupan kita.


Pertama: Melakukan kedurhakaan dan dosa

“Setiap umatku mendapat perlindungan afiat kecuali orang-orang yang terang-terangan. Dan, sesungguhnya termasuk perbuatan terang-terangan jika seseorang melakukan suatu perbuatan pada malam hari, kemudian dia berada pada pagi hari, padahal Allah telah menutupinya, namun dia berkata, ‘Hai fulan, malam tadi aku telah berbuat begini dan begini’, padahal Rabb-nya telah menutupinya, namun kemudian dia menyelak sendiri apa yang telah ditutupi Allah pada dirinya.” [Riwayat Bukhari]

Kedua: Merasakan adanya kekerasan dan kekakuan hati

Kerana perasaan ini, seseorang merasakan seakan-akan hatinya telah berubah laksana batu keras yang hampir mustahil diusik dan dipengaruhi sesuatu pun.

Allah telah berfirman:
“Kemudian setelah itu, hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” [Al-Baqarah: 74]

Ketiga: Tidak tekun dalam beribadah

“Tidak akan diterima doa dari hati yang lalai dan main-main.” [At-Tarmizi]

Antara tandanya ialah tidak khusyuk serta hilang tumpuan semasa solah, membaca quran, berdoa dan lain-lain. Tidak menyemak dan memikirkan makna-makna doa, sehingga dia membacanya hanya sekadar rutin yang sudah tentu membosankan

Keempat: Malas untuk melakukan amal taat dan ibadah serta meremehkannya.

“Dan, apabila mereka berdiri untuk solah, mereka berdiri dengan malas.” [An-Nisa’: 142]

Masih ada sahaja segolongan orang yang menunda-nunda mengikuti saf pertama, sehingga Allah pun menunda keberadaan mereka di dalam neraka.” [Riwayat Abu Daud]

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang
yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan, mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” [An-Anbiya’: 90]

Kelima: Dada yang terasa menyesak, perubahan perilaku dan tabiat yang terbelenggu.

Sehingga seakan-akan seseorang merasa beban berat yang menghimpitnya. Sehingga dia cepat menjadi resah dan gelisah kerana suatu masalah yang remeh sahaja

Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam telah mensifati iman sebagai berikut: “Iman itu ialah kesabaran dan kelapangan hati.”

Keenam: Tidak tersentuh oleh kandungan ayat-ayat Al-Quran

Tidak tersentuh dengan janji, ancaman, perintah, pensifatan kiamat dan lain-lainnya di dalam Al-Quran. Orang yang lemah imannya akan menjadi bosan dan malas untuk mendengarkan kandungan isi Al-Quran, dan tidak berusaha untuk membuka dirinya untuk berhubung secara langsung dengan bacaan Al-Quran. Sekiranya dia membuka mushaf, isi kandungannya tidak diperhatikan dan diberi perhatian.


Ketujuh: Melalaikan Allah dalam hal berzikir dan berdoa.

Allah telah mensifati orang-orang munafik dalam firman-Nya:
Dan, mereka tidak menyebut Allah kecuali hanya sedikit sekali.” [An-Nisa’: 142]
Kelapan: Tidak merasa tergugah tanggungjawab untuk beramal demi kepentingan Islam.

Tidak mahu berusaha untuk menyebarkannya dan menolongnya. Keadaan ini berbeda jauh dengan para sahabat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Seorang pemuda , Ibnu Amr Radhiyallahu ‘Anhu langsung beranjak melakukan dakwah kepada kaumnya sebaik sahaja dia masuk Islam. Tetapi majoriti orang-orang pada zaman sekarang ini hanya duduk senang dan tidak memiliki rasa tangunggjawab untuk melakukan dakwah meskipun sudah sekian lama dia sebagai seorang Muslim.


No comments: